Try to usd chart finance курс try.

Karakter Budaya Sains Asli dan Karakter Budaya Sains Modern pada Pelajar Sekolah Menengah Atas di Sumatera Barat, Indonesia

Erman Har

Abstract


RESUME: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahap KBSA (Karakter Budaya Sains Asli) dan KBSM (Karakter Budaya Sains Modern), membandingkan KBSA dan KBSM berdasarkan jenis kelamin dan lokasi sekolah pelajar SMA (Sekolah Menengah Atas), serta melihat sumbangan KBSM terhadap KBSA pada para pelajar SMA di Sumatera Barat, Indonesia. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara random, sebanyak 324 orang telah dapat memberikan respons sebagai sampel penelitian yang berasal dari empat zona dengan jumlah sampel ditentukan secara proporsional sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analisis inferensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KBSA pelajar SMA, baik di kota maupun di pinggir kota, berada pada tahap yang sederhana. Manakala KBSM pelajar SMA, baik di kota maupun di pinggir kota, berada pada tahap yang tinggi. Uji-t terhadap KBSM antara pelajar lelaki dengan pelajar perempuan yang berada di kota tidak terdapat perbedaan yang signifikan; sedangkan KBSM antara pelajar lelaki dengan pelajar perempuan yang berada di pinggir kota terdapat perbedaan yang signifikan. KBSA antara pelajar lelaki dengan pelajar perempuan yang berada di kota terdapat perbedaan yang signifikan. Manakala KBSA antara pelajar lelaki dengan pelajar perempuan yang berada di pinggir kota juga terdapat perbedaan yang signifikan. Analisis regresi berganda menunjukkan terdapat sumbangan yang signifikan KBSM terhadap KBSA. Oleh sebab itu, perlu penekanan terhadap KBSM dalam muatan kurikulum sains di SMA.

KATA KUNCI: Karakter budaya sains asli, karakter budaya sains modern, pelajar SMA, Sumatera Barat, dan kurikulum sains.

ABSTRACT: This article entitled “Cultural Characters of Original Science and Modern Science at the Senior High School’s Students in West Sumatera, Indonesia”. The aims of study are to determine the stage of CCOS (Cultural Character of Original Science) and CCMS (Cultural Character of Modern Science), to compare them based on gender and location of SHS (Senior High School)’s students, as well as to see the contribution of CCMS towards CCOS at the students in West Sumatera, Indonesia. Method used by taking random sample, a total of 324 people have been able to respond as the study sample came from four zone determined by the number of samples in proportional. Data analysis is descriptive and inferential. Research findings showed that CCOS of SHS students in the city as well as in the outskirts are at a moderate level. While CCMS of SHS students in the city as well as in the outskirts are at a high level. The CCMS t-test between male students with female students residing in the city, there is no significant difference; while CCMS among male students with female students in the suburban, there is a significant difference. The CCOS among male students with female students residing in the city, there is a significant difference. While CCOS between male students with female students in the suburbs, there is a significant difference. Multiple regression analysis showed that there is a significant contribution of CCMS towards CCOS. Therefore, it is necessary to emphasis CCMS in the science curriculum at the SHS.

KEY WORD: Cultural character of original science, cultural character of modern science, senior high school’s student, West Sumatera, and science curriculum.

About the Author: Dr. Erman Har adalah Dosen Senior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UBH (Universitas Bung Hatta) di Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Alamat emel: mr.ermanhar@yahoo.com

How to cite this article? Har, Erman. (2013). “Karakter Budaya Sains Asli dan Karakter Budaya Sains Modern pada Pelajar Sekolah Menengah Atas di Sumatera Barat, Indonesia” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.13-26. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112.

Chronicle of article: Accepted (March 3, 2013); Revised (April 5, 2013); and Published (May 20, 2013).


Full Text:

PDF

References


Aikenhead, G.S. & O.J. Jegede. (2000). “Cross-Cultural Science Education: A Cognitive Explanation of a Cultural Phenomenon” dalam Journal of Research in Science Teaching, Vol.36, hlm.269-287.

Bagir, Z.A. (2002). “Islamisasi Sains atau Objektifikasi Islam”. Makalah untuk Seminar Epistemologi Islam, Center for Religious and Cross-Cultural Studies, di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia, pada 15 Agustus.

Baker, D. & P.C. Taylor. (1995). “The Effect of Culture on the Learning of Science in Non-Western Countries: The Result of an Integrated Research Review” dalam International Journal of Science Education, 17(6), hlm.695-704.

Bodner, M. (1986). “Contructivism: A Theory of Knowledge” dalam Journal of Chemiccal Education, 63(10), hlm.873-878.

Cobern, W.W. & G.S. Aikenhead. (1996). “Cultural Aspects of Learning Science”. Working paper. Available also at: http://www.wmich.edu/slcsp/121.htm/ [diakses di Padang, Indonesia: 20 Nov 2012].

Costa, V.B. (1995). “When Science is ‘Another World’: Relationships between Worlds of Family, Friends, School, and Science” dalam Science Education, 79(3), hlm.313-333.

Dawson, C. (1992). “The Scientific and the Everyday: Two Different Ways of Knowing, Some Implication for Science Teaching” dalam The Australia Science Teachers Journal, 38(1).

Depdiknas RI [Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia]. (2001). “Peranan Dewan Sekolah di Era Otonomi Daerah” dalam Dengan Buku Jelajahi Dunia: Buletin Pusat Perbukuan, Vol.5. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas RI.

Driver, R. & B. Bell. (1986). “Student Conseptions and the Learning of Science” dalam International Journal of Science Education, 11, hlm.481-490.

Gunstone, R. (1990). “Children’s Science: A Decade of Development in Contructivism View of Science Teaching and Learning” dalam The Australian Sciencee Teachers Journal, 36(4).

Hudiyono, P.W.S. Sumi. (2006). “Alam Pikiran Manusia dan Perkembangannya”. Makalah disampaikan pada pelatihan Nasional Dosen IAD [Ilmu Alamiah Dasar], diselenggarakan oleh Departemen Kimia FMIPA [Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam] Universitas Indonesia dan Ditjen Dikti Depdiknas RI [Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia] di Padang, Sumatera Barat, pada 11-13 September.

Irzik, G. (2001). “Universalism, Multiculturalism, and Science Education” dalam Science Education, 85(1), hlm.77-79.

Jegede, O.J. & P.A. Okebukola. (1989). “Influence of Socio-Cultural Factor on Secondary Students’ Attitude toward Science” dalam Research in Science Education, 19, hlm.155-164.

Jegede, O.J. & G.S. Aikenhead. (2000). “Transcending Cultural Border: Implications for Science Teaching” dalam http://www. Jegede@ouhk.edu.hk [diakses di Padang, Indonesia: 20 November 2012].

Krejcie, R.V. & D.W. Morgan. (1970). “Determining Sample Size for Research Activities” dalam Educational and Psychological Measurement, 30(3), hlm.607-6010.

Lucas, B.K. (1998). “Some Coutionary Notes about Employing the Socio-Cultural Environmental Scale in Different Cultural Contexts” dalam Journal of Research and Mathematics Education in South East Asia, 21(2).

Ogawa, M. (2002). “Science as the Culture of Scientist: How to Cope with Scientism?” dalam http://sce6938-01.fsu.edu/ogawa.html [diakses di Padang, Indonesia: 10 November 2012].

Ramli, Awang. (2003). Falsafah Sains dan Teknologi. Pahang: PTS Publications & Distributors Sdn Bhd.

Rusilawati. (2007). “Budaya Sain dan Teknologi di Kalangan Murid Sekolah dan Hubungannya dengan Pertambahan Tempo Pembelajaran Sains”. Tesis Ph.D. Tidak Diterbitkan. Bangi: Fakulti Pendidikan UKM [Universiti Kebangsaan Malaysia].

Sidin, Rubiah et al. (2001). “Pembudayaan Sains dan Teknologi: Kesan Pendidikan dan Latihan di Kalangan Belia di Malaysia” dalam Jurnal Pendidikan, 27. Bangi: Fakulti Pendidikan UKM [Universiti Kebangsaan Malaysia], hlm.35-45.

Snively, G. & J. Corsiglia. (2001). “Discovering Indigenous Science: Implications for Science Education” dalam Science Education, Vol.85(1), hlm.7-34.

Stanley, W.B. & N.W. Brickhouse. (2001). “The Multicultural Question Revisited” dalam Science Education, Vol.85(1), hlm.35-48.

Suastra, W. (1996). “Konsepsi Awal Siswa tentang Perubahan Wujud Zat” dalam Jurnal Aneka Widya STKIP Singaraja, No.2, Th.XXIX [April].

Subahan, M.M.T. (1997). “Penggunaan Teori dalam Pengajaran dan Pembelajaran”. Kertas Kerja dalam Seminar Kebangsaan Pendidikan Sains dan Matematik pada Abad ke-21 di UTM [Universiti Teknologi Malaysia] Johor Bahru, pada 12-13 September.

Sulaiman, Noordin. (1993). Sains, Falsafah, dan Islam. Bangi: Penerbit UKM [Universiti Kebangsaan Malaysia].

Sulfikar, Amir. (2009). “Menjelajahi Sains Lewat Dunia Sosial” dalam surat kabar KOMPAS. Jakarta: 21 Maret.

Yusof Hj Othman, Mohd. (2002). “Sains, Teknologi, dan Pembangunan Manusia” dalam Misran Rokimin, J.F. Ongkili & Azmi Aziz [eds]. Falsafah dan Peradaban Pembangunan. Bangi: Penerbit UKM [Universiti Kebangsaan Malaysia], hlm.69-84.




SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan is published by Minda Masagi Press. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Sharealike 4.0.