Tl vs usd ingiliz sterlini amerikan doları paritesi gbp usd.

Dinamika Wanita Betawi pada Abad ke-20

Ita Syamtasiyah Ahyat

Abstract


RINGKASAN: Wanita Betawi pada umumnya cenderung menikah dengan orang dari etnik lain, yang jauh lebih banyak bergerak, daripada menikah dengan orang Betawi sendiri. Mereka lebih banyak berkiprah dalam kegiatan yang bersifat umum, misalnya kegiatan profesional, bekerja di pemerintahan, dan kegiatan yang bersifat keagamaan di majelis taklim. Namun, dengan banyaknya pendatang dari berbagai etnik di Nusantara dan mancanegara, dalam era globalisasi di akhir abad ke-20 serta maraknya pembangunan di Jakarta, maka terjadilah perubahan terhadap orang Betawi, khususnya terhadap kaum wanitanya. Dari hasil wawancara penulis dengan sejumlah wanita Betawi (lebih-kurang 50 orang), baik yang tinggal di pinggir kota maupun di tengah kota, ditemukan bahwa banyak wanita Betawi yang sudah mengecap pendidikan tinggi. Begitupun pada tingkat partisipasi dalam angkatan tenaga kerja sudah mulai kelihatan nyata. Wanita Betawi juga sudah berhimpun dan menyusun wadah perjuangan dalam satu bentuk organisasi, yang bersifat kekeluargaan dan kemasyarakatan, namanya PWB (Persatuan Wanita Betawi). PWB didirikan pada tanggal 25 Maret 1984 di Jakarta dan memperjuangkan agar keberadaan dan peran mereka tetap eksis, baik di pentas nasional maupun internasional. Dengan bermodalkan sifat mereka yang terbuka terhadap budaya apa pun, cepat menyesuaikan diri, dan memiliki nilai-nilai agama yang begitu kental, wanita Betawi diharapkan mampu membawa insan Indonesia yang beramal dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan ikut dalam pembangunan nasional untuk menyongsong abad ke-21.

KATA KUNCI: Wanita Betawi, dinamika sosial, abad ke-20, kedudukan dan peran, modal sosial, pembangunan nasional, dan menyongsong abad ke-21.

ABSTRACT: “The Dynamics of Betawi Women in the 20th Century”. The Betawi women generally tend to marry someone from another ethnic, who is much more mobile, than marry with Betawi people themselves. The Betawi women are much more active in the general activities, such as professional activities, working in government affairs, and involving in activities of religious in “majlis taklim”. However, with the number of immigrants from various ethnic groups in the Archipelago and abroad, in the era of globalization in the late 20th century and the rise of development in Jakarta, then, there was a change to the Betawi people, especially against the women. From interviews conducted by the author with a number of Betawi women (more or less 50 people), both of which live in the suburbs and the city center, it was found that many Betawi women who already achieved the higher education. Likewise, on the level of participation in the labor force has begun to look real. Betawi women have also been gathered and compiled the struggle medium in a form of organization, which is familial and social affairs, namely PWB (Betawi Women Association). PWB was established on March 25, 1984, in Jakarta and fight for their existences and roles are still exist, both at the national and international stage. With their social capitals are open to any culture, quickly adjust, and have religious values that are so thick, Betawi women expected to bring Indonesian man/women who good deed and fear of Almighty God, to participate in national development for welcoming the 21st century.

KEY WORD: Betawi women, social dynamics, the 20th century, position and role, social capital, national development, and welcoming the 21st century.

About the Author: Dr. Ita Syamtasiyah Ahyat adalah Dosen Senior di Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI (Universitas Indonesia), Kampus UI Depok, Jawa Barat, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis bisa dihubungi dengan alamat telepon genggam: +62818971221 atau alamat emel di: ita_ahyat@yahoo.co.id

How to cite this article? Syamtasiyah Ahyat, Ita. (2015). “Dinamika Wanita Betawi pada Abad ke-20” in ATIKAN: Jurnal Kajian Pendidikan, Vol.5(1) June, pp.65-76. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press and FPOK UPI Bandung, ISSN 2088-1290.

Chronicle of the article: Accepted (April 15, 2015); Revised (May 13, 2015); and Published (June 30, 2015).


Keywords


Betawi women; social dynamics; the 20th century; position and role; social capital; national development; welcoming the 21st century

Full Text:

PDF

References


Alawiyah, Tutty A.S. (1995). Mengenal Peradaban Dunia: Catatan Perjalanan di 91 Kota di 5 Benua, 1959-1994. Jakarta: Yayasan Alawiyah.

Alawiyah, Tutty A.S. (1996). Wanita dalam Nuansa Peradaban. Jakarta: Yayasan Alawiyah.

Alawiyah, Tutty A.S. (1997). Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim. Jakarta: Penerbit Mizan.

“Batavia: Kisah Jakarta Tempo Doeloe” dalam majalah Intisari. Jakarta: Juni 1988.

“Berita8.com: Betawi Tengah, Betawi Pinggir, dan Betawi Udik” dalam http://eddiddassiro.co.id/2011/06/berita8com-betawi-tengah-betawi-pinggir.html [diakses di Depok, Indonesia: 15 Januari 2015].

Blusse, Leonard. (1988). Persekutuan Aneh: Pemukman Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC. Jakarta: PT Penerbit Pustazel Perkasa, Terjemahan.

Bruner, M. Edward. (1974). “The Expressions of Ethnicity in Indonesia” dalam Abner Cohen [ed]. Urban Ethnicity. London: Tavistock.

Castle, Lance. (1967). “The Ethnic Profile in Jakarta” dalam Indonesia, Vol.1, No.3 [April], hlm.153-204.

DEZ [Departement van Economische Zaken]. (1935). Volkstelling 1930, Deel VII. Batavia: Departement van Economische Zaken.

Disbud DKI [Dinas Kebudayaan Daerah Khusus Ibukota] Jakarta. (1986). Peta Seni Budaya Betawi. Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Gafur, Abdul. (1996). Rangkaian Melati: Ibu Tien Soeharto dalam Pandangan dan Kenangan para Wanita. Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada.

Heuken, Adolf S.J. (1997). Tempat-tempat Bersejarah di Indonesia. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, Terjemahan.

Koentjaraningrat. (1972). “Metode-metode Wawantjara” dalam Berita Antopologi. Djakarta: UI [Universitas Indonesia] Press.

Lohanda, Mona. (1996). The Kapitan Cina of Batavia, 1837-1942: A History of Chinese Establishment in Colonial Society. Jakata: Djambatan.

Marzali, Amri. (1990). “Pendidikan dan Keterbelakangan Orang Betawi” dalam Media Ika, XIV, No.11.

Melalatoa, M. Junus. (1995). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI [Republik Indonesia].

Melalatoa, M. Junus. (1997). Sistem Budaya Indonesia. Jakarta: PT Paramator.

Nalapraya, Haji Eddie M. (1997). BAMUS (Badan Musyawarah) Betawi. Jakarta: Penerbit BAMUS Betawi.

Partrijunianti, Endang. (2012). “Solusi Jalan Tengah: Perempuan dan Pekerjaan dalam Perubahan Sosial-Budaya di Kampung Betawi Rawakalong, Kelurahan Grogol, Depok”. Disertasi Doktor Tidak Diterbitkan. Depok: Program Pascasarjana, Departemen Antropologi FISIP UI [Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia].

Probonegoro, Ninuk. (1987). “Teater Topeng Betawi sebagai Teks dan Maknanya: Suatu Tafsiran Psikologi”. Tesis Doktor Tidak Diterbitkan. Jakarta: UI [Universitas Indonesia].

PWB [Persatuan Wanita Betawi]. (1993). “Hasil Musyawarah Besar III Persatuan Wanita Betawi di Hilton Hotel, Jakarta, pada Tanggal 13-15 Juli 1993”. Laporan Tidak Diterbitkan. Jakarta: Persatuan Wanita Betawi.

Rahardjo, Julfita et al. (1980). Wanita Kota Jakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ramto, Bun Yamin. (1992). “Pola Kebijakan dalam Sistem Pengelolaan Kota” dalam majalah ilmiah Prisma. Jakarta: 5 Mei.

Saidi, Ridwan. (1997). Profil Orang Betawi: Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadatnya. Jakarta: Gunara Kata.

Srikandi. (1991). Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi. Jakarta: PT Ciptawiya Swara.

Suparlan, Parsudi. (1996). “Antropologi Perkotaan”. Diktat Tidak Diterbitkan. Depok: Jurusan Antropologi FISIP UI [Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia].

Surjomihardjo, Abdurrachman. (1977). Pemekaran Kota Jakarta. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Tilden, K.E. (2004). “Sociolinguistic Aspects of Djakarta Dialect Switching in Bahasa Indonesia in Eight Education Novels”. Unpublished Ph.D. Thesis. USA [United States of America]: University of Michigan.

Yuniarti, Sri. (1996). “Persepsi Masyarakat Non-Betawi tentang Stereotip Orang Betawi dalam Sinetron Si Doel Anak Sekolahan”. Skripsi Sarjana Tidak Diterbitkan. Depok: UI [Universitas Indonesia].

Zaki Shahab, Yasmine. (1982). “The Position of Betawi Women: Native People in Jakarta”. Unpublished Master Thesis. Canberra: ANU [Australian National University].

Zaki Shahab, Yasmine. (1993). “The Creation of Ethnic Tradition: The Betawi of Jakarta”. Unpublished Doctoral Dissertation. London: SOAS [School of Oriental and African Studies] University of London.

Zaki Shahab, Yasmine. (1997). Betawi dalam Perspektif Kontemporer: Perkembangan, Potensi, dan Tantangannya. Jakarta: Lembaga Kebudayaan Betawi.