Konsep Sains dan Teknologi pada Masyarakat Tradisional di Provinsi Jawa Barat, Indonesia

Johar Maknun

Abstract


ABSTRAKSI: Nilai-nilai luhur budaya yang dimiliki kelompok masyarakat di Indonesia sudah merupakan milik bangsa sebagai potensi yang tak ternilai untuk pembangunan dan kemajuan bangsa. Di lingkungan masyarakat tradisional Jawa Barat terbangun sains asli yang berbentuk pesan, adat-istiadat yang diyakini oleh masyarakatnya, dan disampaikan secara turun-temurun tentang bagaimana harus bersikap terhadap alam. Masyarakat adat yang tidak mendapatkan pengetahuan formal tentang peran gas oksigen, karbondioksida, serta siklus karbon di alam, menerapkan pengetahuan tradisional berupa amanat leluhur untuk menjaga hutan dan air dengan cara tidak menebang hutan sembarangan. Teknologi yang berkembang pada masyarakat tradisional Sunda, salah satunya, bisa diamati pada bangunan tradisional berupa rumah panggung. Sistem kekuatan pada rumah panggung menggunakan ikatan, sambungan “pupurus”, dan pasak. Tidak ada paku, mur, dan baut, karena dilarang oleh adat dan bertentangan dengan aturan leluhur mereka atau tabu. Nilai-nilai luhur dan budaya lokal tersebut tetap dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya yang hidup di era modern.

KATA KUNCI: Sains Modern dan Tradisional; Teknologi Ramah Lingkungan; Kearifan Lokal; Masyarakat Sunda; Rumah Panggung. 

ABSTRACT: “The Concept of Science and Technology in Traditional Communities in West Java Province, Indonesia”. The noble values of culture owned by community groups in Indonesia have belonged to the nation as an invaluable potential for the development and progress of the nation. In the West Java traditional community, the original science in the form of messages, customs that are believed by the community, and passed down from generation to generation about how to behave towards nature. Indigenous peoples who do not get formal knowledge of the role of oxygen gas, carbon dioxide, and the carbon cycle in nature, applying traditional knowledge of ancestral mandates to preserve forests and water by not cutting down forests indiscriminately. The technology that developed in Sundanese traditional society, one of them, can be observed in the traditional building in the form of a stage house. The power system of the house on stilts uses ties, connections, and pegs. There were no nails, nuts, and bolts, for it was forbidden by custom and against their ancestral rules or taboos. These valuable values and local cultures are maintained and passed on to the next generation living in the modern era.

KEY WORD: Modern and Traditional Science; Environmental Friendly Technology; Local Wisdom; Sundanese People; Stage House.

About the Author: Dr. Johar Maknun adalah Dosen Senior pada Program Studi Pendidikan Teknik Arsitektur FPTK UPI (Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Indonesia), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel: joharmaknun@upi.edu

How to cite this article? Maknun, Johar. (2017). “Konsep Sains dan Teknologi pada Masyarakat Tradisional di Provinsi Jawa Barat, Indonesia” in MIMBAR PENDIDIKAN: Jurnal Indonesia untuk Kajian Pendidikan, Vol.2(2), September, pp.127-142. Bandung, Indonesia: UPI [Indonesia University of Education] Press, ISSN 2527-3868 (print) and 2503-457X (online).

Chronicle of the article: Accepted (January 25, 2017); Revised (April 30, 2017); and Published (September 30, 2017).


Keywords


Sains Modern dan Tradisional; Teknologi Ramah Lingkungan; Kearifan Lokal; Masyarakat Sunda; Rumah Panggung

Full Text:

PDF

References


Adimihardja, K. (2008). Dinamika Budaya Lokal. Bandung: Pusat Kajian LBPB.

Alfian, Magdalia. (2013). “Potensi Kearifan Lokal dalam Pembentukan Jatidiri dan Karakter Bangsa”. Tersedia secara online di: https://icssis.files.wordpress.com/2013/09/2013-01-33.pdf [diakses di Bandung, Indonesia: 20 Mei 2017].

Alwasilah, A. Chaedar et al. (2009). Etnopedagogi: Landasan Praktek Pendidikan dan Pendidikan Guru. Bandung: Penerbit Kiblat.

Arowolo. (2010). “The Effects of Western Civilization and Culture on Africa” in Afro-Asian Journal of Social Sciences,Vol.1, No.1 [Quarter IV].

Baker, D. & P.C.S. Taylor. (1995). “The Effect of Culture on the Learning of Science in Non-Western Countries: The Results of an Integrated Research Review” in International Journal of Science Education, 17(6), pp.695-704.

Brostow, W., T. Datashvili & H. Miller. (2010). “Wood and Wood Derived Materials” in Journal of Materials Education, Vol.32(3-4), pp.125-138.

Butaru, Redaksi. (2010). “Kampung Naga: Masyarakat Adat yang Menjaga Pelestarian Lingkungan”. Tersedia secara online di: http://tataruang.atr-bpn.go.id/Bulletin/upload/data_artikel/Kampung%20Naga [diakses di Bandung, Indonesia: 20 Mei 2017].

Disbudpar [Dinas Kebudayaan dan Pariwisata]. (2002). Kampung Adat dan Rumah Adat di Jawa Barat. Bandung: Disbudpar Jawa Barat.

Djahiri, K. (2002). Hakekat Pembelajaran AJEL (Active, Joyful, Effective, Learning). Bandung: Laboratorium PPKn FPIPS UPI [Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia].

Ekadjati, E.S. (1995). Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya.

Felix. (1999). Konstruksi Kayu. Bandung: CV Trimitra Mandiri.

Hairida. (2010). “Pemanfaatan Budaya dan Teknologi Lokal dalam rangka Pengembangan Sains” dalam Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA, Vol.1, No.1 [Januari]. Tersedia secara online juga di: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=33530&val=2343 [diakses di Bandung, Indonesia: 20 Mei 2017].

Hardesty, D.L. (1977a). Ecological Anthropology. New York: John Wiley

Hardesty, D.L. (1977b). “Ekonesia” dalam A Journal of Indonesian Human Ecology, Vol.1, No.1, hlm.1-22. Jakarta: Program Studi Antropologi PPs UI [Program Pascasarjana Univesitas Indonesia].

Iskandar, Johan & Budiawati S. Iskandar. (2011). Agroekosistem Orang Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Kasa, I.W. (2011). “Local Wisdom in Relation to Climate Change” in Journal of ISSAAS, 17(1), pp.22-27.

Koentjaraningrat [ed]. (2007). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Kuswarno, E. (2008). Etnografi Komunikasi: Suatu Pengantar dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran.

Litaay, T. (2008). “Kemendesakan Perlindungan Pengetahuan Tradisional di Indonesia”. Tersedia secara online di: https://dewapurnama.files.wordpress.com [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Lubis, Nina H. et al. (2003). Sejarah Tatar Sunda, Jilid 2. Bandung: Satya Historika.

Maknun, J., D.H. Nanang & B. Tjahyani. (2012). “Pengembangan Pembelajaran Mitigasi Bencana Berorientasi Kearifan Lokal dengan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat pada Pelajaran IPA Sekolah Menengah Kejuruan”. Laporan Penelitian Tidak Diterbitkan. Bandung: LPPM UPI [Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pendidikan Indonesia].

Maknun, J., B. Tjahyani & H. Sidik. (2015). “Pengembangan Pembelajaran Konstruksi Bangunan Berbasis Kearifan Lokal Bangunan Tradisional Sunda Bervisi Science Environment Technology and Society (SETS)”. Laporan Penelitian Tidak Diterbitkan. Bandung: LPPM UPI [Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pendidikan Indonesia].

Malihah, Elly. (2010). “Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Seni dalam Kehidupan Manusia”. Tersedia secara online di: http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/PLSBT/Modul_5_PLSBT.pdf [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Maria, Siti et al. (1995). Peranan Tabu dalam Pelestarian Lingkungan pada Masyarakat Kampung Naga. Jakarta. Proyek IDKD, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Maridi. (2015). “Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air”. Tersedia secara online di: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=375177 [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Naritoom, Chatcharee. (2010). Local Wisdom/Indigenous Knowledge. Nakhon Pathom, Thailand: Kasetsart University.

Nuryanto. (2006). “Kontinuitas dan Perubahan Pola Kampung dan Rumah Tinggal dari Kasepuhan Ciptarasa ke Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi (Selatan), Jawa Barat”. Tesis Riset Magister Tidak Diterbitkan. Bandung: Program Studi Arsitektur ITB [Institut Teknologi Bandung].

Ogawa, M. (2002). “Nature of Indigenous Science: A Stratified and Amalgamated Model of Knowledge and Cosmology”. Paper presented to the 33rd Annual Meeting of the Australasian Science Education Research Association, Townsville, Australia.

Pembangunan, Y. (2005). West Java: Miracle Sight a Mass of Verb and Scene Information. Jakarta: MPI Foundation.

Pikiran Rakyat [suratkabar]. Bandung: 7 September 2009.

Piliang, Y.A. (2014). “Transformasi Budaya Sains dan Teknologi Membangun Daya Kreativitas” dalam Jurnal Sosioteknologi, Vol.13, No.2 [Agustus].

Rahmat, P.S. (2009). “Penelitian Kualitatif” dalam Jurnal Equilibrium, Vol.5(1), Januari-Juni, hlm.1-8.

Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia since c.1300. London: MacMillan, 2nd edition.

Rusnandar, Nandang. (2015). “Tatacara dan Ritual Mendirikan Rumah di Kampung Naga Kebupaten Tasikmalaya” dalam Patanjala, Vol.7, No.3 [September], hlm.525-542. Tersedia secara online juga di: file:///C:/Users/acer/Downloads/117-305-1-SM.pdf [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Sangganagara, Harjoko. (2010). “Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal di Jawa Barat”. Tersedia secara online di: https://www.kompasiana.com/harjoko-sang/pendidikan-berbasis-kearifan-lokal-di-jawa-barat [diakses di Bandung, Indonesia: 20 Mei 2017].

Santosa, Edi. (2011). “Revitalisasi dan Eksplorasi Kearifan Lokal (Local Wisdom) dalam Konteks Pembangunan Karakter Bangsa”. Tersedia secara online di: file:///C:/Users/acer/Downloads/8202-18054-1-SM.pdf [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Saringendayanti, E. (2008). Kampung Naga Tasikmalaya dalam Mitologi: Upaya Memaknai Warisan Budaya Sunda. Bandung: Fakultas Sastra UNPAD [Universitas Padjadjaran].

Sartini. (2004). “Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafati” dalam Jurnal Filsafat, 37(2), hlm.111-120.

Sharma, B. et al. (2015). “Engineered Bamboo for Structural Applications” in Construction and Building Materials, 81, pp.66-73.

Siregar, Budi Baik Wahono. (2002). Kembali ke Akar: Kembali ke Konsep Otonomi Masyarakat Asli. Jakarta: Penerbit FPPM.

Snively, G. & J. Corsigilia. (2001). “Discovering Indigenous Science: Implications for Science Education” in Science Education, Vol.85(1), pp.7-34.

Soumilena, Nicoll. (2010). “Pengertian Kearifan Lokal”. Tersedia secara online di: http://www.academia.edu/4145765/Pengertian_kearifan_lokal [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Suastra, I.W. (2005). “Merekonstruksi Sains Asli (Indigenous Science) dalam Upaya Mengembangkan Pendidikan Sains Berbasis Budaya Lokal di Sekolah” dalam Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Th.XXXVIII, No.3 [Juli].

Sufi, Rusdi. (1997). Ukuran, Takaran, dan Timbangan Tradisional Masyarakat Aceh. Banda Aceh: Penerbit BPSNT.

Sumaatmadja, Nursid. (2000). Manusia dalam Konteks Sosial-Budaya dan Lingkungan Hidup. Bandung: Apfabeta.

Suryani, Anne. (2008). “Comparing Case Study and Ethnography as Qualitative Research Approaches” dalam Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol.5, No.1 [Juni]. Tersedia secara online juga di: https://pdfs.semanticscholar.org [diakses di Bandung, Indonesia: 20 Mei 2017].

Tajfel, H. & J.C. Turner. (1986). “The Social Identity Theory of Inter-Group Behavior” in S. Worchel & L.W. Austin [eds]. Psychology of Intergroup Relations. Chicago: Nelson-Hall.

Thomas & Ganiron. (2014). “Investigation on the Physical Properties and Use of Lumampao Bamboo Species as Wood Construction Material” in International Journal of Advanced Science and Technology, Vol.72, pp.49-62.

Triyadi, S. & A. Harapan. (2008). “Kearifan Lokal Rumah Vernakular di Jawa Barat Bagian Selatan dalam Merespon Gempa” dalam Jurnal Sains dan Teknologi EMAS, Vol.18, No.2 [Mei].

Wandansari, G.K.R. (2010). “Aktulialisasi Nilai-nilai Tradisi Budaya Daerah sebagai Kearifan Lokal untuk Memantapkan Jatidiri Bangsa”. Tersedia secara online di: http://ikadbudi.uny.ac.id/sites/ikadbudi.uny.ac.id/files/lampiran/MAKALAH_0.pdf [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Warnaen, Suwarsih et al. (1987). Pandangan Hidup Orang Sunda: Seperti Tercermin dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundalogi), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayan.

Wawancara dengan Responden A, seorang Ketua Adat, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia, pada tanggal 5 Juli 2016.

Wawancara dengan Responden B, seorang Ketua Adat, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia, pada tanggal 15 Juli 2016.

Wawancara dengan Responden C, seorang Ketua Adat, di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia, pada tanggal 25 Juli 2016.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
MIMBAR PENDIDIKAN: Jurnal Indonesia untuk Kajian Pendidikan. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

View My Stats