Enkulturasi Nilai-nilai Budaya dalam Keluarga pada Perhelatan Mandoa Khatam Al-Qur’an di Masyarakat Balai Gurah, Sumatera Barat

Wirdanengsih Wirdanengsih

Abstract


ABSTRAKSI: Tradisi lisan adalah hasil kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Tradisi lisan memiliki kandungan nilai-nilai yang memberikan pedoman untuk berperilaku didalam masyarakat. Dalam konteks tradisi lisan ini, perhelatan “Mandoa Khatam Al-Quran adalah proses inisiasi dalam keluarga masyarakat Balai Gurah di Sumatera Barat, Indonesia, yang berlangsung secara turun-temurun dan dilakukan pada anak laki-laki dan perempuan pada usia 8-12 tahun. Pelaksanaan perhelatan mandoa ini merupakan salah satu dari kewajiban orang tua yang patut dilakukan, ketika anak-anak mereka sudah bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan proses pelaksanaan perhelatan “Mandoa Khatam Al-Quran anak-anak, dan mengungkapkan pewarisan nilai-nilai yang terjadi dalam proses perhelatan tersebut. Penelitian ini bersifat diskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data berupa pengamatan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa perhelatan “Mandoa Khatam Al-Quran merupakan wadah pembentukan karakter anak, perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta pengakuan sosial terhadap anak atas kemampuannya membaca Al-Quran dan pengakuan atas keberadaan si anak dalam sistem kekerabatan pada keluarga Minangkabau.

KATA KUNCI: Berdoa; Khatam Al-Quran; Enkulturasi; Nilai Budaya; Keluarga Minangkabau. 

ABSTRACT: “Enculturation of Cultural Values in the Family in the Ceremony for Praying Finished Reading the Quran in Community of Balai Gurah, West Sumatera”. The oral tradition is the result of culture inherited from generation to generation by the local community. The oral tradition contains values that provide code of conduct in society. In the context of oral tradition, ceremony for praying finished reading the Quran is an initiation process for family community in Balai Gurah, West Sumatera, Indonesia that lasted for generations and do the children of men and women at the age of 8-12 years. The implementation of ceremony for praying finished reading the Quran is one of the duties of parents that should be done, when their children are able to read the Al-Quran properly. This study aims to describe the process of implementing the ceremony for praying finished reading the Quran for the children and inheritance reveals values that occur in the process of the event. This research is descriptive qualitative with data collection techniques such as observation, interviews, and literature review. The results showed that the ceremony for praying finished reading the Quran is used to character formation of children, the embodiment of gratitude to the Almighty as well as the social recognition of the children on their ability to read the Al-Qur’an and the recognition of the existence of the children within the kinship system of Minangkabau family.

KEY WORD: Praying; Finished Reading the Quran; Enculturation; Cultural Values; Minangkabau Family.

About the Author: Wirdanengsih adalah Staf Pengajar di FIS UNP (Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang) di Sumatera Barat; dan sekarang sebagai Mahasiswa S3 Program Doktor di SPs UPI (Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis boleh dihubungi dengan alamat emel: wirdanengsih69@yahoo.com

How to cite this article? Wirdanengsih. (2017). “Enkulturasi Nilai-nilai Budaya dalam Keluarga pada Perhelatan Mandoa Khatam Al-Quran di Masyarakat Balai Gurah, Sumatera Barat” in INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia, Vol.2(1), February, pp.53-62. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 2443-1776.

Chronicle of the article: Accepted (October 9, 2016); Revised (December 27, 2016); and Published (February 27, 2017).


Keywords


Berdoa; Khatam Al-Qur’an; Enkulturasi; Nilai Budaya; Keluarga Minangkabau

Full Text:

PDF

References


Al-Hafizh, Muhd. (2013). “Fungsi Upacara Adat dalam Enkulturasi dan Internalisasi Nilai-nilai Islam di Minangkabau”. Tersedia secara online di: https://hafizhliterature.wordpress.com [diakses di Bandung, Indonesia: 5 Januari 2017].

Al-Musanna. (2011). “Rasionalitas dan Aktualisasi Kearifan Lokal sebagai Basis Pendidikan Karakter” dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol.17, No.6 [Novtember].

Alwasilah, A. Chaedar. (2003). Pokoknya Kualitatif. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Arfinal. (2014). “Nilai Kemanusiaan yang Terkandung dalam Upacara ‘Pasambahan Kematian’ di Kecamatan Kuranji, Padang, Sumatera Barat” dalam Suluah: Media Komunikasi Kesejarahan, Kemasyarakatan, dan Kebudayaan, Vol.14, No.2 [Juni]. Kota Padang: Balai Pelestarian Nilai dan Budaya.

Bogdan, R. & S. Biklen. (1992). Qualitative Research for Education. MA: Allyn and Bacon.

Cresswell, J.W. (1998). Research Design: Qualitative & Quantitative Approaches. Thousand Oaks, CA: Sage Publication.

Denzim, N. & Y. Lincoln. (1994). Entering the Field of Qualitative Research. Thousand Oaks, CA: Sage Publication.

Dunnebier, W. (1938). “De Plechtigheid ‘Waterscheppen’ in Bolaang Mongondow: Monajoek Polat Monondeaga” in Tijdschrift voor Indische Taal- Land- en Volkenkunde, Deel LXXVIII. Batavia: Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen.

Effendi, Nusyirwan. (2014). “Kearifan Lokal Menuju Penguatan Karakter Sosial: Suatu Tatangan dari Kemajemukan Budaya di Sumatera Barat” dalam Jurnal Antropologi: Isu-isu Sosial Budaya, Vol.16, No.2.

Fajarni, Ulfah. (2014). “Peran Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter” dalam Jurnal Sosio Didaktika, Vol.1, No.2 [December].

Gabriel, Ralph H. (1991). Nilai-nilai Amerika dan Perubahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Terjemahan.

Geertz, Clifford. (1992). Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, terjemahan dari “The Interpretation of Culture: Selected Essays” oleh Franciscus Budi Hardiman.

Hamka. (1985). Islam dan Adat Minangkabau. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Hasanadi. (2014). “Membentuk Karakter melalui Penanaman Nilai-nilai Budaya Rumah Gadang Minangkabau” dalam Suluah: Media Komunikasi Kesejarahan, Kemasyarakatan, dan Kebudayaan, Vol.15, No.1 [Desember]. Kota Padang: Balai Pelestarian Nilai dan Budaya.

https://ms.wikipedia.org/wiki/Khatam [diakses di Bandung, Indonesia: 27 Desember 2016].

Islamuddin. (2014). “Pengembangan Budaya Suku Talang Mamak sebagai Nilai Kearifan Lokal dalam Bagian Civic Culture” dalam JPIS: Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol.23, No.2 [Desember].

Jumhari. (2014). “Melacak Kearifan Lokal dan Alih Pengetahuan Teknologi Pembuatan Kapal Tradisional di Daerah Air Haji Lewat Tuturan ‘Si Tukang Tuo Bagan’” dalam Suluah: Media Komunikasi Kesejarahan, Kemasyarakatan, dan Kebudayaan, Vol.15, No.1 [Desember]. Kota Padang: Balai Pelestarian Nilai dan Budaya.

“Kabupaten Agam”. Tersedia secara online di: https://infonusa.wordpress.com/2015/03/30/kabupaten-agam/ [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Kato, Tsuyoshi. (2005). Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah. Jakarta: PN Balai Pustaka, Terjemahan.

Keesing, Roger M. & S. Gunawan. (1992). Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer, Jilid II. Jakarta: Penerbit Arlangga, terjemahan dari “Cultural Anthropology: A Comtemporary Perspective” oleh R.G. Soekadijo.

“Khatam”. Tersedia secara online di: https://ms.wikipedia.org/wiki/Khatam [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Koentjaraningrat. (1994). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mahmud, Zulkarnain. (2013). “Pendidikan Masyarakat Nusantara: Bagaimana Masyarakat Jawa Mendidik Putra-Putrinya”. Tersedia secara online di: https://es-la.facebook.com/notes/ahmad-munzir/pendidikan-masyarakat-nusantara [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Maxwell, J. (1996). Qualitative Research Design: An Interactive Approach. Thousand Oaks, CA: Sage Publication.

Mungmachon, Raoikhwanmhut. (2012). “Knowledge and Local Wisdom: Community Treasure” in International Journal of Humanities and Social Science, Vol.2, No.13 [July].

Mutiah et al. (2009). Harmoni Agama dan Budaya di Indonesia. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.

Nasution, S.M. (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Penerbit Tarsito.

Navis, A.A. (1982). Alam Terkembang Jadi Guru. Bandung: Penerbit Angkasa.

Penghulu, Idrus Hakimy Datuk Rajo. (1994). Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Pratama, Nia Nadela. (2013). “Pasambahan dalam Upacara Khatam Al-Qur’an di Nagari Tabek Patah, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar” dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol.1, No.1 [Maret].

Rahmat, Pupu Saeful. (2009). “Penelitian Kualitatif” dalam Jurnal Equilibrium, No.5, No.1 [Juni], hlm.1-8. Tersedia secara online juga di: http://yusuf.staff.ub.ac.id/files/2012/11/Jurnal-Penelitian-Kualitatif.pdf [diakses di Bandung, Indonesia: 19 Desember 2016].

Rosidin. (2015). “The Harmony Values in Local Wisdoms of Bawean Gresik People” in Jurnal Al-Qalam, Vol.21, No.1 [June].

Sedyawati, Edi. (2006). Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: Raja Grafido Pustaka.

Suhatman, Hendri. (2016). “Balai Gurah, IV Angkek, Agam”. Tersedia secara online di: https://id.wikipedia.org/wiki/Balai_Gurah,_IV_Angkek,_Agam [diakses di Bandung, Indonesia: 30 Desember 2016].

Syahroni, Hendra. (2008). “Adat Minangkabau”. Tersedia secara online di: http://hsyahroni.blogspot.co.id/2008/11/minangkabau.html [diakses di Bandung, Indonesia: 30 Desember 2016].].

Sztompka, Piotr. (2005). Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Penerbit Prenada, Terjemahan.

Tafsir, Ahmad. (2001). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosda Karya.

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2011). “Do’a Khatam Al-Qur’an”. Tersedia secara online di: https://rumaysho.com/1657-doa-khatam-al-quran.html [diakses di Bandung, Indonesia: 30 Desember 2016].

Tuloli, Nani. (1991). Tanggano: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Jakarta: Penerbit Intermasa.

Umi, Baroroh R. (2005). “Pelembagaan Tradisi Membaca Al-Quran Masyarakat Mlangep” dalam Jurnal PendidikanAgama lslam, Vol.11, No.2.

Undri. (2014). “Orang Minangkabau dan Budaya Berdemokrasi” dalam Suluah: Media Komunikasi Kesejarahan, Kemasyarakatan, dan Kebudayaan, Vol.15, No.1 [Desember]. Kota Padang: Balai Pelestarian Nilai dan Budaya.

Wagiran. (2012). “Pengembangan Karakter Berbasis Kearifan Lokal: Hamemayu Hayuning Bawana” dalam Jurnal Pendidikan Karakter, Thn.2, No.3 [Oktober]. Yogyakarta: LPPMP UNY, ISSN 2089-5003.

Wardhani, Novia Wahyu. (2013). “Pembelajaran Nilai Kearifan Lokal sebagai Penguat Karakter Bangsa melalui Pendidikan Informal: Studi Deskriptif Kualitatif Tembang Asmaradana dalam Serat Wulang Reh pada Masyarakat Keraton Kasunanan Surakarta” dalam Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol.14, No.1 [April].

Wawancara dengan Zulfia, tokoh masyarakat dari Nagari Balai Gurah, di Padang, Sumatera Barat, Indonesia, pada tanggal 10 Juli 2015.

Wirdanengsih. (2016). “Pembudayaan Tradisi Membaca Alquran pada anak-anak di Masyarakat Balai Gurah Kabupaten Agam Sumatera Barat”. Tersedia secara online di: file:///C:/Users/acer/Downloads/21-49-1-SM.pdf [diakses di Bandung, Indonesia: 30 Desember 2016].


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

View My Stats