INSANCITA

Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia

This journal, with ISSN 2443-2776, was firstly published on February 5, 2016, in the context to commemorate the anniversary of HMI (Himpunan Mahasiswa Islam or Association of Islamic College’s Students) in Indonesia. The INSANCITA journal has been organized by the Alumni of HMI who work as Lecturers at the HEIs (Higher Education Istitutions) in Indonesia, since issue of February 2016 to date; and published by Minda Masagi Press, a publishing house owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia.

The articles published in INSANCITA journal are able to be written in English as well as in Indonesian and Malay languages. The INSANCITA journal is published every February and August. This journal is dedicated not only for Indonesian scholars who concern about Islamic studies, but also welcome to the scholars of Southeast Asian countries and around the world who care and share related to the Islamic studies in general. 

The INSANCITA journal is devoted, but not limited to, Islamic studies and any new development and advancement in the field of Islamic society. The scope of our journal includes: (1) Language and Literature in Islam; (2) Social Science and Humanities in Islam; (3) History and Philosophy of Education in Islam; (4) Economy and Business in Islam; (5) Science, Technology and Society in Islam; (6) Political, Cultural and Social Engineering in Islam; and (7) Visual Arts, Dance, Music, and Design in Islam.

Since early 2016, the website of INSANCITA journal has migrated to website based on OJS (Open Journal System) program at: www.mindamas-journals.com/index.php/insancita. However, the conventional e-mail address for sending the articles is still able to: insancita.journal@gmail.com 


INSANCITA:
Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia,
Volume 2(1) February 2017 

Mengenang: Ahmad Dahlan Ranuwihardjo 

Ahmad Dahlan Ranuwihardjo lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada tanggal 13 Desember 1925. Ketika menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI (Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam), pada 1951-1953, dengan demikian usia Dahlan adalah 26 tahun. Pendidikan dasar dan menengah dilalui di sekolah Islam, mengingat ayahnya adalah seorang Pengurus organisasi Muhammadiyah di Pekalongan. Setelah tamat dari TK (Taman Kanak-kanak) Bustanul Athfal, Dahlan muda melanjutkan sekolah dasar dan menengah di Zuama Muhammadiyah di Yogyakarta. Di kota yang merupakan Pusat Budaya Jawa dan ibukota pada masa revolusi Indonesia inilah Dahlan muda bertemu dan dididik oleh sejumlah tokoh Muhammadiyah, seperti Hasan Basri dan Ahmad Azhar Basyir.

Pada masa revolusi Indonesia (1945-1950), Dahlan muda bergabung dalam Pelajar Angkatan Perang. Ia pernah dipercaya menjadi Komandan Compie Mahasiswa Brigade XVII TNI (Tentara Nasional Indonesia), yang bertugas di Markas Ronggolawe I, daerah Lamongan, Jawa Timur, pada tahun 1947-1949. Karena bergabung dalam organisasi tentara pelajar inilah, Dahlan muda mendapatkan kesempatan tugas belajar di Fakultas Hukum UGM (Universitas Gadjah Mada) di Yogyakarta. Namun, saat ibukota Republik Indonesia pindah lagi dari Yogyakarta ke Jakarta, pada tahun 1950, Dahlan muda pun ikut hijrah ke Jakarta. Dan di ibukota Jakarta inilah Dahlan muda terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI, untuk periode 1951-1953, dengan status sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum UI (Universitas Indonesia). Dahlan sendiri baru menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum UI dan mendapatkan gelar SH (Sarjana Hukum) pada tahun 1963.

Sejumlah kalangan menilai, Dahlan lebih dikenal sebagai tokoh Islam yang sangat nasionalis. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengkaderisasi anggota HMI, yang mendambakan lahirnya seorang INSANCITA, yakni sosok kader HMI yang punya kompetensi akademik, inovatif, dan dedikatif, dengan visi dan wawasan yang bercorak ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Karena dedikasi dan kiprahnya dalam bidang kaderisasi itulah, beliau mendapat panggilan akrab dari para anggota, kader, dan alumni HMI di seluruh Indonesia, sebagai “Pak De”. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, sebutan “Pak De” tidak hanya berarti paman yang lebih tua (abangnya ayah), tapi juga bermakna orang tua kedua atau wali yang bisa menggantikan posisi ayah dalam mendidik, menggembleng, dan mengarahkan cita-cita anak muda.  

Pemikiran Dahlan yang Islam tapi nasionalis ini menjadikan dirinya lebih dekat dengan Bung Karno, Presiden Pertama RI (Republik Indonesia), 1945-1966. Pada tahun 1950/1960-an, misalnya, ketika wacana perlunya negara Islam direalisasikan, baik dengan cara-cara radikal, seperti oleh gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), maupun dengan cara-cara Parlementer dan demokratis, seperti oleh partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia), Dahlan termasuk tokoh Muslim yang menolak tentang Negara Islam dan mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk menerima Negara Nasional. Kesamaan wawasan dan ideologi tentang Islam dan Nasionalisme ini menjadikan Dahlan lebih dekat dengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Bung Karno dan Roeslan Abdulgani daripada kepada tokoh-tokoh Islam seperti Mohammad Natsir dan Prawoto Mangkusasmito.

Pada tahun 1950/1960-an pula Dahlan pernah dipercaya oleh Presiden Soekarno menjadi Anggota Dewan Nasional, yang dibentuk pada tahun 1957. Dahlan juga dipercaya menjadi Anggota MPRGR/S (Majelis Permusyawaratan Rakyat Gotong Royong/Sementara), dari 1960 hingga 1968. Rahasia kedekatan Dahlan dengan Bung Karno pernah beliau ungkapkan ketika memberikan ceramah politik di HMI Cabang Bandung pada tahun 1990-an. Menurut Dahlan, hal itu dikarenakan Bung Karno menganggap dirinya sebagai orang Sunda, seperti nampak dalam nama belakangnya yang dibaca “Ranuwihardja”, bukan “Ranuwihardjo”. Benar atau tidaknya kisah itu, hanya Pak De Dahlan yang tau. Tapi yang jelas, berkat kedekatan hubungannya dengan Presiden Soekarno, ketika kekuatan politik kiri, seperti PKI (Partai Komunis Indonesia), PR (Pemuda Rakyat), dan CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) menuntut kepada Presiden Soekarno agar HMI dibubarkan pada tahun 1960-an, di sinilah salah satu peran yang bisa dimainkan oleh Dahlan.

Dalam buku yang ditulisnya kemudian, dan diterbitkan dengan judul “Bung Karno dan HMI dalam Pergulatan Sejarah” (2002), Dahlan menjelaskan bahwa dirinya merupakan salah sorang yang berhasil menyakinkan Presiden Soekarno untuk tidak membubarkan HMI. Sementara itu buku-bukunya yang lain, seperti “Revolusi, Anti Imperialisme, dan Pancasila” (2002), termasuk kisah hidup dirinya yang berjudul “Biografi, Pemikiran, dan Perjuangan A. Dahlan Ranuwihardjo” (1995), semakin meyakinkan para pembaca bahwa Ahmad Dahlan Ranuwihardjo adalah, sebagaimana dikatakan oleh Roeslan Abdulgani, tokoh Jubir USMAN (Juru Bicara USDEK Manipol) pada zaman Bung Karno berkuasa, sebagai “seorang Muslim nasionalis”.

Karena wawasan dan ideologi nasionalismenya yang dekat dengan Bung Karno inilah, barangkali, yang menyebabkan Dahlan kurang mendapat tempat dalam jagat perpolitikan pemerintah Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto (1966-1998). Umumnya, para mantan Ketua Umum PB HMI selalu mendapat tempat untuk menduduki posisi-posisi penting pada masa Orde Baru, termasuk jabatan Menteri sebagai Pembantu Presiden. Namun tidak demikian dengan Dahlan. Bahkan jabatan terakhir Dahlan sebagai Anggota Badan Pekerja MPRS tahun 1968, juga harus dipecat karena berselisih faham dengan Ali Murtopo, sebagai orang kepercayaan Presiden Soeharto. Dahlan menerima keadaan dengan kesadaran bahwa zaman telah berubah dan rezim telah berganti, dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto.

Kiprah Dahlan sejak masa awal Orde Baru, tahun 1970-an, hingga menjelang akhir hayatnya, tahun 2000-an, adalah menjadi seorang pendidik dan pengkader HMI yang baik. Dahlan tercatat, misalnya, pernah menjadi Dekan sekaligus Dosen mata kuliah Hukum Tata Negara dan Bahasa Belanda di UNAS (Universitas Nasional) Jakarta. Dahlan juga pernah menjabat sebagai Dewan Kurator UBK (Universitas Bung Karno) di Jakarta. Sebagai seorang pengkader HMI yang baik dan handal, Pak De Dahlan dikenal oleh anggota dan alumni HMI di semua lini dan angkatan. Buah pikirannya tentang “Menjadi Pejuang Paripurna”, dan diterbitkan oleh KAHMI (Korps Alumni HMI) Maluku Utara, pada tahun 2000, menunjukan komitmen Pak De Dahlan tentang perlunya proses kaderisasi bagi HMI agar melahirkan sosok seorang pemimpin yang berwawasan ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an sebagai dua entitas yang tak terpisahkan.

Dalam usia yang sudah renta, pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri (2001-2004), Pak De Dahlan masih dipercaya untuk menjadi Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Bung Karno pada bulan Juni 2001. Akhirnya, pada tanggal 13 Desember 2001 (persis sama seperti tanggal kelahirannya), Ahmad Dahlan Ranuwihardjo, S.H. alias Pak De meninggal dunia di Jakarta dalam usia 76 tahun. Kini organisasi HMI, termasuk para anggota, kader, dan alumninya di seluruh Indonesia, juga turut mendoakan semoga Allah SWT (Subhanahu Wa-Ta’ala) menerima iman, Islam, dan amal sholeh Pak De Dahlan, serta menempatkan Allahyarham di sisi-Nya. Amin ya Robbal ‘Alamin. [MAS].

Cover of INSANCITA Journal, Issue of February 2017:

Organized and Published by: 

Minda Masagi Press owned by ASPENSI (Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung and the Alumni of HMI (Association of Islamic College Students) who work as Lecturers at the HEIs (Higher Education Institutions) in Indonesia. Websites: www.aspensi.com

The website of KEMENRISTEKDIKTI RI (Ministry of Research, Technology, and Higher Education of the Republic of Indonesia) in Jakarta related to the scholarly journals is also available online at: http://simlitabmas.ristekdikti.go.id



Vol 2, No 1 (2017)

Table of Contents

Articles

Mahmoud Dawoud Shakfa, Muhammad Kamarul Kabilan
Abstract views: 305       PDF downloads: 0
PDF
Muhammad Ryan Hafiez, Andi Suwirta, Achmad Iriyadi
Abstract views: 63       PDF downloads: 0
PDF
Mohd Sholeh bin Sheh Yusuff
Abstract views: 56       PDF downloads: 0
PDF
Ibiyinka Olusola Adesanya
Abstract views: 36       PDF downloads: 0
PDF
Wirdanengsih Wirdanengsih
Abstract views: 166       PDF downloads: 0
PDF
Editor Journal INSANCITA
Abstract views: 27       PDF downloads: 0
PDF
Editor Journal INSANCITA
Abstract views: 24       PDF downloads: 0
PDF
Editor Journal INSANCITA
Abstract views: 17       PDF downloads: 0
PDF